Kuburan: Dari belum pakai Sendal, hingga abad Milenial

Kuburan: Dari belum Pakai Sendal, Hingga abad milenial | Tak ada tempat yang lebih horor dari pada kuburan. Bahkan, cukup mendengar nama itu terngiang di telinga, khususnya saat matahari sudah terbenam, rasanya kaki sudah buru-buru tunggang langgang. Bulu kuduk merinding tak karuan.

Jika ada orang yang meninggal, lalu orang lain mengawali ceritanya dengan satu kata ini, maka kita harus bersiap-siap untuk mendengarkan mitos estafet yang akan membuat kita merinding dua kali ketika hendak ke kamar mandi seorang diri. Saat terbangun di malam hari oleh panggilan kencing yang melesat secara tiba-tiba, jangan-jangan ada hantu wanita berambut terurai yang bercermin di kaca rias kamar mandi…hihihihi

 

Dan kalau di waktu kecil, terpaksa pergi mengaji ke rumah seorang priyayi yang jauh jaraknya. Untuk sampai ke sana, harus melewati 2 opsi. Lari nekat dengan bekal lampu senter, atau memilih menunggu orang lain datang sebagai umpan. Jika ada orang lain untuk melintas dengan tujuan yang sama, kita menguntitnya dari belakang sebagai rekan.

Intinya, tidak akan ada orang yang menertawai, jika kita takut untuk lewat kuburan. Hanya seorang pemberani atau yang kebetulan goblok saja yang tidak takut lewat kuburan pada dini hari.

Kuburan di Zaman Milenial

Itu dulu. Saat cahaya temaram hanya dimiliki penduduk perkotaan. Dulu saat film-film kita masih bertema “hohohihe”, yang dibungkus dalam kerangka film horor.

 

Ya, saat-saat itu kuburan merupakan tempat yang sangat menakutkan, yang di siasati kebenarannya pada siang hari saja.

Bahkan, hanya untuk lewat jalan di sebelah-nya saja waktu itu, sudah memerlukan keberanian yang ekstra besar. Maka, saat itu jika diminta memilih antara berjalan dua kilo tanpa melewati, atau lewat di sebelah kuburan dan berjalan hanya satu kilo akan tetapi harus lewat kuburan, rasanya kita pasti akan memilih yang pertama.

Konyol? Tidak. Tidak konyol. Lha wong Blogermie pernah punya pengalaman manis seperti itu.

 

Memang saat itu, kita masih sangat takut pada genderuwo, pocong, kuntilanak, sundel bolong, lampor, jerangkong, dan sebangsanya. Apalagi, listrik yang bisa memberi penerangan cukup belum tersedia. Sehingga, untuk melewati 1 malam saja, kita di hampiri rasa takut yang berlebihan lantaran suasana memang tegang. Terasa sangat mencekam.

Dan kegelapan seperti itulah yang justru membuat kita semakin takut memandang 1 sama lain. heh jangan-jangan kamu setan ya…sambil menghardik kawan sendiri. 😀

 

Jadi, kegelapan teritorial sudah ada karena belum terdapatnya fasilitas penerangan yang memadai. Ini semakin menambah kegelapan pikiran di kepala kita, sehingga hal-hal yang belum tentu ada itu-pun menjadi tampak jelas dan kita pun takut untuk bertemu dengan mereka.

Yang terjadi?

Entah itu hanya rumor atau benar-benar terjadi, saat itu banyak orang yang berkisah telah berjumpa dengan makhluk-makhluk yang saya sebutkan.

 

Kuburan menjadi celah persepsi antara yang “pura-pura ada” dan “tiada”

Sekali lagi, itu dulu. Kini, cara manusia milenial melihat kuburan telah banyak berubah. Kita tidak lagi se-paranoid dulu saat harus lewat kuburan.

Kita tidak lagi memilih jalan magic hanya demi menghindari kuburan. Tentu saja perubahan ini tidak terjadi dengan sendirinya.

 

Perubahan itu antara lain disebabkan oleh semakin rasional pikiran kita setelah terjamah oleh sains. Pikiran kita kini semakin digiring untuk terang, sehingga hal-hal yang dulunya samar dan menimbulkan persepsi yang menakutkan, sekarang ini menjadi jelas. Dan kutukan-kutukan maut itu dengan sendirinya berangsur-angsur sirna.

Di tambah lagi, listrik kini telah menjangkau hampir semua wilayah di negeri kita. Ia tidak hanya dinikmati oleh orang kota tetapi juga telah dirasakan oleh orang-orang desa. Maka secara teritorial desa kini menjadi seterang kota.

 

Gabungan kecerdasan dan teritorial ini membawa dampak yang sungguh-sungguh dahsyat karena saat pikiran terang dan teritorial benderang kita tidak memikirkan hal-hal yang mungkin berada di balik kegelapan. Yang benar-benar ada, atau yang hanya sekadar kepalsuan yang menyaru, hingga membuatnya seolah-olah nampak nyata.

 

Maka, genderuwo dan kawan-kawannya yang dahulu bersembunyi di gemeramang ghaib dan kegelapan kuburan, tidak lagi menjadi sumber ketakutan. Karena kita bisa melihat dengan jelas, dengan mata hati dan mata kepala. Mereka tidak tampak di tempat-tempat yang dahulu kita bayangkan dengan wujud mereka yang berbeda-beda.

 

Lucunya sekarang, Makhluk-makhluk ini nyatanya memberikan banyak sebuah peringatan. Semacam gejala penunjuk awal akan datangnya sesuatu. Akan esensi waktu yang kian menyempit.

 

Misalnya (sambil mengeluh): O jangkrek, menungso saiki ra wedi karo demit, wedine karo duit

Misalnya: Raden, hari ini tumben belum tidur, pasti mikirin  sesuatu ? mikirin aku, apa korban gempa palu?

Kuburan adalah peringatan keras dari alam yang menjadi bukti bahwa: “yang Maha Ghaib” memang Ada

Dan anehnya, saat merasakan makhluk-makhluk itu berada di sekitar  rumor-rumor manusia yang menemui jalan buntu. Ternyata mereka bisa baper juga, ketika alam sudah tak lagi menunjukkan sikap yang harmonis. Seperti gempa.

Ya demikianlah. Allah selalu begitu, akan selalu “maha” menyeimbangkan sesuatu.

Seperti pada › tulisan ini

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan