Orang Tua dan Kisahnya yang Tercoreng

Orang Tua dan kisahnya yang Tercoreng | Alkisah, di sebuah negeri Ranggenah. Hiduplah seorang gadis yang memiliki kedua orang tua kolot dan konglomerat. Gadis tersebut kemudian dipaksa oleh orang tua-nya untuk menikah dengan calon pilihan mereka. Si anak telah memiliki pilihan sendiri. Cintanya pada pujaan hatinya begitu besar. Akan tetapi kecintaan pada orang tua, dia rasa jauh lebih besar lagi.
Maka, meski batinnya teriris-iris, dia membuang impiannya dan menuruti kehendak kedua orang tuanya.

Pujaan hati anak itu adalah seorang pemuda desa, yang sangat rendah hati. Tak terhitung seberapa banyak, yang pemuda desa ini korbankan demi cintanya.
Memang harta yang seberapa nilainya, baik waktu,bahkan impiannya sendiri, rela ia buang demi kebahagiaan kekasih ini.

 

Ketika kekasihnya memberi tahu bahwa dirinya sedang dalam dilema. Antara memilih cinta pada kekasih atau pada orang tua, si pemuda terdiam.
Dalam hati dia begitu takut akan kehilangan kekasih yang sangat disayanginya. Akan tetapi, bagian hatinya yang lain memberitahu, bahwa bukan tindakan yang benar untuk mendapatkan cinta sang kekasih jika sang kekasih melalaikan tanggung jawabnya mengabdi sebagaimana anak yang saleh.

Dia berpikir bahwa pengorbanan terbesar dalam cinta adalah mengorbankan perasaan cintanya. Seberat apapun, itu harus dilakukan.

Jika selama ini dia telah begitu banyak berkorban demi kekasihnya, pengorbanan puncak dalam cintapun, siap dia lakukan. Sehingga, kedua insan yang saling mencinta itupun sepakat untuk berpisah, dan berjanji untuk selalu saling mendoakan kebahagiaan pujaan hati mereka.

 

Orang tua yang menggadaikan kebahagiaan si Anak. Haruskah ?

 

Pernikahan tak terhindarkan. Si anak hidup bersama orang yang pada mulanya tidak dia cinta. Hanya rasa bakti kepada orang tua lah yang membuat gadis ini rela menanggung hidup dalam keadaan seperti itu. Meski wajah kekasihnya tak pernah bisa lepas dari pelupuk mata, dia tetap menjalani hidup normal dengan suaminya yang sekarang.

 

Hari berlalu, pasangan suami istri itu kini sudah hidup bahagia. Si anak, meski masih tetap menyimpan rasa cintanya pada pujaan hati, kini telah mulai  dapat membiasakan diri mencintai suaminya. Karena memang si suami ini merupakan orang dengan kepribadian baik, maka dia-pun, terbiasa memperlakukan istrinya dengan penuh cinta. Maka, kebahagiaan akhirnya bisa menyelimuti kehidupan kedua insan ini.

 

Saat melihat kebahagiaan yang dirasakan si anak, kedua orang tua si anak itu merasa jerih payahnya terbayar. Bangga bahwa mereka telah berhasil membahagiakan anaknya.
Mereka semakin menganggap bahwa keputusannya untuk memaksa anaknya berpisah dari kekasih yang dia cinta dan memaksanya menikah dengan calon pilihannya, adalah tindakan yang bijak.

“Buktinya, Tanpa menaruh rasa curiga, toh Anak kita sekarang bisa hidup bahagia dengan suaminya”. Begitu ucap mereka dengan sangat bangga.

……
 

Kata mutiara: Terkadang, Tuhan hanya mempertemukan. Bukan untuk Mempersatukan

Tanpa diketahui dari mana datangnya, seorang perempuan tua sudah berada di depan kedua orang tua si anak ini. Dengan pandangan sangat tajam, si perempuan tua ini-pun berkata:

 

Wahai orang tua, bukan tindakan kalian yang telah memaksa anak kalian menikah dengan pilihan kalian yang membuat dia bahagia. Tindakan kalian itu tetap salah.

Kalaupun anak kalian sekarang telah hidup bahagia, itu karena balasan dari keikhlasannya mengesampingkan cintanya sendiri demi berbakti pada kalian. Bukan tindakan kalian yang telah membuatnya bahagia.
Sampai kapanpun, tindakan kalian ini adalah tindakan salah. Yang tak hanya telah menyakiti hati dan perasaan anak kalian, akan tetapi juga telah menghancurkan hati seorang pemuda yang telah tulus dan penuh pengorbanan mencintainya.

Kini, karena rasa ikhlas yang di tunaikannya, pemuda itu pun hidup sangat bahagia. Semoga Tuhan menyadarkan kalian, karena jika kelak kalian meninggal dan pemuda itu belum memaafkan, maka akhirat kalian berdua akan terbebani.”

Sumber: Telesinema AZAB Indosiar.

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan