Ultraman Orbs Yang Tersisihkan

Ultraman Orbs yang tercekik dan tersisihkan | Mengerjakan sesuatu dengan penuh ke-fokusan, belum tentu baik adanya. (itu buat saya) Karena jika sampai konsentrasi-nya tak terukur dan cenderung berlebihan, bisa melupakan hal-hal kecil yang nampaknya sepele bagi kita. Yang justru berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain terhadap diri kita.

Melalui pengamatan orang lain, hal sepele itu yang malah sangat bernilai dan memiliki arti. Peringatan ini sepertinya penting bagi siapa saja. Yang terlanjur sibuk, jangan terlalu larut dengan aktivitas yang dianggap prioritas. Karena di lingkungan sendiri, ada yang lebih membutuhkan perhatian.

 

Intinya begini: Jangan sok berani membuat janji. Karena akan langsung diminta menepati.
Dimanapun itu, hukum piutang pasti berlaku.

 

Seperti halnya kemarin sabtu. Kejadian  antara Saya dan dan Irma,

Irma : ” Yah..tolong temenin Irma lihat Film Ultraman Orb”
Saya : “sebentar ya….(lagi benerin hape)

lebih kurang 10mnt an..

Irma : “Ayah!…Film ultramannya sudah main”
Saya : “duh, ayah lupa…tunggu ya..(Sebentar lagi selesai)

lebih kurang 15mnt an…

Irma : “Ayah…cepetan, Gai ( tokoh pemeran Ultraman ) sudah berubah bentuk (dalam bahasa jepang : “Henshin“)”
Saya : “yaa…sebentar ya..(lagi dikamar mandi)
Irma :¬† Sambil menghampiri ibunya, Irma bertanya dengan agak ketus: “Jam berapa Ayah selesai she Buk?..kok lama…?”
Saya : Dari dalam kamar mandi berteriak “ok, sekarang Ayah temanin Irma ya…” sambil terburu-buru!

 

Di layar televisi juga demikian.

Setelah menunggu dengan sangat lama, Ultraman yang bertarung seorang diri tanpa bantuan seorang pun, dengan begitu hebohnya, dibuat kalang kabut.

Belum sempat bagi saya untuk secepatnya menuju ruang keluarga, tempat televisi itu berada, Ultraman Orb Akhirnya roboh diterjang lawannya.

 

Ultraman… oh Ultraman

Melihat kejadian itu, hilang sudah sebuah kesempatan bagi Irma demi menunjukkan kepada ayahnya kalau jagoannya tak akan terkalahkan oleh lawan seberat apapun. Pada titik ini, tampang cemas Irma pun timbul.

 

Irma yang tadinya menaruh harap agar kemenangan mutlak diperoleh Ultraman, lantas beranjak dari posisinya duduk. Balik arah menuju ruangan tempat kerja Saya. Entah tanpa tedeng aleng-aleng, Irma menunjukkan ekspresi kecewa dan meringkasnya lagi menjadi sebuah koreografi.

Bentuk rasa emosional yang di peragakan begitu unik. Tanpa suara disertai lontaran kata-kata kasar, Irma menggenggam action figur Ultraman, lalu membawanya ke meja kerja saya.

Dengan aksen yang agak aneh namun disertai maksud, Irma mengaitkan leher Ultraman dengan seutas kabel handset smartphone dan menggantungkannya di depan monitor komputer. Seolah-olah tercekik akibat gantung diri.

 

ultraman

Action Figur Ultraman 7

Untuk imajinasi seorang anak kecil berusia 5 tahun yang belum cukup uzur memahami arti kekecewaan, Tokoh pahlawan bagi mereka tak hanya dijadikan panutan karena sudah merasa menang, namun juga membutuhkan dukungan ketika dikalahkan.

Ckckck.. cukup pintar memendam kekesalannya dalam hati.

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan