80 Km Per Jam

Melihat judulnya, Pasti pembaca sekalian sudah mengira saya akan menggagas tulisan tentang Jorge Lorenzo, atau bahkan Marc Marquez. Padahal, saya tidak akan menulis tentang mereka karena semua orang sudah tahu bahwa deretan nama-nama tersebut adalah pembalap yang terkenal ngebut di lintasan balap. Dan dengan profesinya mereka saat ini, telah banyak ikut andil dalam mengharumkan nama bangsa dan negara. Sehingga tidak perlu lagi untuk diceritakan.

Tapi yang perlu digaris bawahi, bukan hanya para rider MotoGP saja yang sanggup ngebut demi bangsa dan negara. Ternyata, siapapun juga bisa melakukan itu. Dan lebih dari nama-nama diatas yang ngebut sewaktu-waktu, toh saya hampir setiap hari ngebut demi negara 😛

Ngebut Demi Negara

Nah, Ceritanya bermula… Hari-hari biasa dimana saya bekerja sebagai buruh panggul di sebuah Rumah Sakit, Standar Nasional, tapi juga lumayan tersohor di kawasan perkotaan.

Letak Rumah Sakit ini cukup jauh dari tempat tinggal saya. Dengan naik sepeda motor Honda Supraun 125 berkecepatan sedang, perjalanan bisa ditempuh kira-kira 45 menit sampai satu jam. Meskipun jarak tempuh dapat dipersingkat 30 menit melalui jalan protokol, saya lebih menyukai perjalanan melintasi area perkampungan penduduk karena banyak sawahnya.

Tiap hari saya harus menempuh perjalanan dengan medan yang cukup berat kala itu. Sementara, di rumah saya juga sering kali harus menyelesaikan pekerjaan freelance yang biasanya saya kerjakan mulai dini hari. Di sinilah persoalannya mengemuka.

Pekerjaan freelance saya itu seringkali membius dan menceburkan imjinasi saya ke rimba kata-kata. Rasanya tanggung jika harus memotong keasyikan bergelut dengan kata-kata saat pekerjaan belum tuntas. Karena, seringkali kata-kata itu sulit untuk terlintas lagi jika sudah terputus oleh hal lain.

Agar waktu yang terpakai di malam hari tidak terbuang percuma, saya pun biasanya memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu. Nah, inilah penyebab tindakan patriotisme saya timbul.

Keputusan untuk menyempurnakan pekerjaan itu membuat saya tidak menyadari bahwa jarum jam sudah melewati angka yang seharusnya. ketika menoleh ke pojok kanan bawah komputer-pun, baru lah saya sadar bahwa waktu sudah sangat muepet untuk istirahat. Namun dengan kesepakatan terhadap diri sendiri, saya baru akan berangkat tidur setelah menunaikan sholat subuh.

Saking mepetnya, sudah dipastikan kesempatan untuk memejamkan mata juga sangat minim. Dirasa percuma juga sih, antara disiplin menghidupkan alarm atau rela bangun kesiangan. Yang artinya sudah siap menanggung resiko tidur-tidur ayam.

Namun tak dinyanah, tidak seperti yang diharapkan antaran “mbangkong” keblabasen (Dalam bahasa jawa yang artinya bangun kesiangan), tidak ada cara lain agar tidak terlambat sampai ke kantor, kecuali NGEBUT 80 km/perjam dengan penuh resiko, disertai melihat jarum spedo.

Menjemput rejeki 2019

Maka, seperti itulah yang saya lakukan walaupun hampir tidak tiap hari: Ngebut di medan yang cukup berat demi tidak terlambat sampai kantor dan bisa menjemput rejeki 2019. 😀

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan