Manusia-manusia Dibalik Fakta

Dunia ini telah ditulis menjadi beberapa kisah, tersisip banyak tanda koma, terselip banyak pula tanda tanya dan tanda seru, tanpa satupun menggunakan tanda titik di akhir cerita. Dan niscaya tak ada satupun insan yang mampu menceritakan sebuah kisah legendaris seindah lukisan nirwana, kecuali ia yang mengalami dan memaknai sendiri. Demikian pula dengan Pikiran Manusia.

Pikiran Manusia tidak ada yang orisinal. Jika memang terdapat pikiran yang masih original, itupun tentunya beliau semata, yang tercipta sempurna, baik lahir dan batinnya sebagai seorang Rasul. Yang sudah dipilih, ditinggikan derajatnya oleh Yang Maha kuasa.

Sejarah pemikiran manusia telah diracik sedimikian rupa untuk mempengaruhi dan dipengaruhi, menjadikan hal tersebut pada akhirnya mendidik wawasan cakrawala yang hybrid dan moderen, namun masih memiliki batasan untuk bab yang beberapa yang diketahui, untuk kemudian memangkas dan memanjangkan akar permasalahannya, mengurangi dan menjumlahkan sebuah putusan, menyalahkan maupun meluruskan, tulus hati bahkan penuh tipu daya atau alibi.

Manusia, Materi Berproses pada Hukum yang Tidak Menetap

Pernahkah kita berpikir, bahwa apa yang diajarkan dan dibawa oleh nabi akhir jaman itu adalah sesuatu ajaran yang baru dibawa oleh orang-orang terdahulu, maka jawabannya ialah TIDAK SAMA SEKALI.

Alasan beliau lahir, tak lain tak bukan adalah mengajak kita untuk berserah diri kepada YMK, agar kelak kita semua paham bahwa pencapaian yang kita sanjung-sanjungkan selama ini sebagai Nikmat, ternyata belum sempurna. Dan hanya Yang Maha Kuasalahlah yang akan menyempurnakannya.

Lalu pernahkah kita berpikir dan merenungkan sejenak tentang peristiwa Habil dan Qabil. Entah bagaimana tentang perjalanan malaikat Harul wal Marut yang akhirnya memilih disiksa di dunia akibat kelalaiannya, maupun epos cerita manusia yang dikarunia oleh Tuhan semesta seluruh alam, menjadi cikal bakal memiliki kepandaian dan pintar, baik secara syariat maupun hakikat. Yaitu Musa dan Khidir.

Tidakkah kisah-kisah itu adalah bukti bahwa Tuhan telah menjadikan suatu materi untuk berproses, menjadikan pembelajaran kepada Kita bahwa sesuatu hal yang dipandang rendah-pun, masih terdapat ilmu.

Diperjalankannya kita dari yang hina menuju sesuatu yang mulia dengan perantara rahmat rasulullah. Agar kita kelak memahami, betapa sayangnya nabi akhir jaman kepada manusia. Sehingga menjadikan kita mampu berpikir bahwa bersyukur itu perlu dilakukan

Takkan Ada Legenda, Tanpa Sentuhan Cinta

“Manusia, termasuk juga saya, seringkali terlampau egois memaksa sebuah kisah agar sinopsisnya seperti angan dan ingin kita. Terlebih jika dihadapkan sebuah masalah. Manusia sering memaksa bahwa jika cinta juga harus berbalas rasa. Demikian juga perasaan pedih, harus berbalas sakit hati.”

Kemewahan terakhir yang dimiliki tiap insan manusia adalah idealisme. Yang tahu idealisme adalah diri kita sendiri, sebab batasan dan ukuran adalah ketika kita tengah bercermin, lalu merunut semua peristiwa yang telah terjadi dan diam-diam mengamini, niscaya Tuhan tidak membebani sebuah cobaan, godaan, dan pencapaian di luar batas kemampuan hambanya.

Kita sering sekali lupa bahkan mengingkari, bahwa manusia hanya makhluk Tuhan yang menjalankan cerita, bukan memaksa suratan…

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan