Smartphone Baru Kami di Tahun 2019

Namanya hidup, Dilema acapkali berganti. Kadangkala bisa rendah, kadang juga bisa tinggi. Namanya juga silih berganti, persoalan yang mau tidak mau, harus dijalani. Termasuk soal Smartphone.

Andaikata diperkenankan memilih, sebetulnya saya adalah tipe pria yang suka Poligami, dengan sedikit pengecualian. Hanya untuk urusan perabotan rumah dan perangkat elektronika-lah saya berani mengambil keputusan yang demikian.


Barang Lama Yang Tetap Bernilai

Setiap harus membeli smartphone baru, selalu ada perasaan berduka, setidaknya enggan. Kenapa saya sebut harus?

Karena cuma keharusan itu sajalah yang membuat saya tergerak menduakan benda ini. Problemnya juga komplek. Ada yang uzur lantaran masa pakai sehingga speknya mulai ketinggalan zaman, ada yang karena tuntutan profesi dan hiburan sehingga “secondary smartphone” selalu jadi pilihan agar tidak mengusik keberadaan smartphone utama, dan ada pula yang raib dicuri.

Tanpa sebab-sebab dramatik itu, betapapun tua sebuah Smartphone, rasanya malah makin dekat saja saya kepadanya. Seluruhnya sudah saya rangkul. Dan keakrapan terhadap apapun, termasuk kepada benda-benda, adalah interaksi kita kepada makhluk juga.

Ada perasaan sebagai teman, saudara, dan akhirnya berkembang sebagai anggota keluarga. Maka ketika harus berpisah dengan ponsel/smartphone yang lama, sering muncul perasaan iba.

Ketika saya menulis kembali di awal Januari ini, saya telah berganti Smartphone lagi, untuk kesekian kali. Walau saya sebut ‘’hp selingkuhan’’ tidak berarti hidup ini melulu diisi dengan hal hal yang baik baik saja. Toh terkesan konsumtif, selama dipantau sepanjang tahun harus berganti, selagi benda berupa alat komunikasi tersebut memiliki nilai yang sanggup dikomersilkan, saya rasa hal tersebut merupakan nilai yang setara. Dan juga, memang ada sekian persoalan yang seperti yang sudah saya sebutkan di diatas terkait perangkat seluler.


Smartphone Baru Selalu Diburu

Seperti galibnya sebuah pergantian, ia selalu ‘’harus’’ yang lebih baru dan lebih tinggi, lebih mahal, lebih asing dan buntutnya menjadi lebih rumit, lebih menjengkelkan… walau pasti tanpa disangka-sangka, konsekuensi tersebut juga bisa dibilang lebih menggoda.

Tetapi godaan itu bukan soal besar bagi saya. Ada banyak hal yang membuat saya tergoda, tetapi pasti bukan soal handphone. Jadi, betapapun mahalnya, betapapun canggihnya, perasaan saya kepadanya biasa-biasa saja. Mau di dalam HP itu terdapat kulkasnya, ada kamera jahat dengan resolusi tingginya, ada fitur-fitur canggih sekalipun, saya tidak terlalu menanggapinya sebagai tawaran yang luar biasa.

Dari Smartphone, betapapun canggih, sebetulnya cuma terbagi dalam dua fungsi saja, yakni SEBAGAI Prioritas dan SEBAGAI penunjang.

Yang sering dipercantik dengan fitur baru, diperbaiki, dipermahal dengan aksesorinya-pun, itu tak lebih dari yang menunjang. Yang prioritas tetap saja bermanfaat seperti sedia kala, Tak banyak berubah. Dan itu cukup bagi saya.

Maka ketika hendak berganti barang dan berencana membelinya pun, saya memastikan membelinya sepasang. Saya cuma ingin kembali pada yang pokok-pokok saja, walau saya tidak menolak sejumlah perbaikan, misalnya suara yang lebih terang, sinyal yang lebih baik, memori yang lebih besar dan seterusnya. Tetapi selebihnya kembali lagi pada kebutuhan pokok itu saja.

Tetapi niat saya kembali ke pokok ini semakin tidak mudah, karena ada mode dan anak-anak. Anak-anak dengan modenya adalah cawan dengan madunya.

Begitu agresifnya mereka agar terlihat manis di sekitar orang terdekatnya, jika dirasa belum mampu bermode sendiri akan menempuh jalan apa saja termasuk melakukan upaya muslihat kepada kedua orang tuanya.

Smartphone Baru Keluaran Sharp

Smartphone baru dengan merek Sharp A click dan Sharp A2 Lite ini sepenuhnya adalah kebutuhan saya dan istri saya, tetapi anak saya-lah penentunya. Maka lengkaplah sudah, barang baru ini seluruhnya adalah sebuah gangguan.

Cuma untuk mencari sebuah fungsi saja harus menguras tenaga dan pikiran sedemikan rupa. Seluruh prosedurnya seperti rimba belantara. Sekadar mengirim WA saja, dengan alat baru ini sungguh menimbulkan kepayahan. Baik saya dan istri, hampir-hampir menyerah karena marah.

Tapi sebelum barang ini saya banting (dan itu pasti tidak mungkin) saya teringat anjuran sederhana. Bahwa ada sebuah fase, yang manusia diminta bersabar atas kepayahannya. Fase itu bernama fase menuntut ilmu. Tidak ada yang sedap dari pihak yang sedang belajar. Kerjanya tak ada lain kecuali keliru, dungu dan menderita. Tetapi sejauh diamati secara detail, keberanian belajar merugi dan menderita itulah yang membuat saya menemukan seluruh keasyikan hidup di hari ini, termasuk di rudo pekso beberapa silent reader untuk nulis lagi .

Tak terkira hambatan saya dalam menulis saat itu. Tetapi betapa seluruh hambatan itu cuma kesepadanan dengan nilai yang disediakan. Seluruh jenis pekerjaan baru, perpindahan, pergeseran ke arah yang lebih baru selalu menghasilkan kepuasan dan pencapaian tersendiri. Tuntaskan saja karena ia memang mengajak kita ke tatanan yang lebih baru, nilai yang selalu lebih bermartabat.

Kuncinya, lalui saja seluruh tahap kesulitan dengan jujur saja, meskipun menjengkelkan.


Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan