Keadilan dan Rasa Sentosa Yang Alam Terjemahkan

syahdunya keadilan Alif Lam Mim
Keadilan dan Rasa Sentosa Yang Alam Terjemahkan | Seorang Bapak yang bercerita. Sepanjang usianya mengabdi diri sebagai pedagang rempeyek. Bertahan hidup setelah menjual seluruh asetnya di kampung halaman, lantaran desakan anak dan para menantunya untuk segera berbagi hak waris.

Polemik materi itu adalah sumber malapetaka yang harus dihindari. Maka sebagaimana orang tua dengan segenap kerelaan, demi menghindari celaka di kemudian hari, dengan penuh keadilan, membagi materi dan memilih hidup suaka. Menuju Kota.

Setelah piutang itu tuntas terlaksana, Ia tetap merasa berbahagia. Meskipun dilain sisi telah ditinggalkan anak dan menantunya pergi, Setidaknya, masih memiliki 1 harta lagi yang senantiasa menemani kelak hingga beliau wafat. Kini, beliau hanya tinggal dengan istrinya. Seorang diri.

Ketika mengamati slide demi slide foto yang saya tangkap hari ini, hati berdesir halus. Timbul perasaan iba, begitu ingat peristiwa yang beliau ceritakan. Sangat tulus untuk diungkap kepada orang lain.

Bersyukur itu perlu. Mungkin ini maksud beliau menyingkap pesan moral yang beliau utarakan. Namun, akan sangat sulit untuk tidak menahan kalut. Bungkam untuk tidak sedih dan menitikkan air mata, berasa campur aduk. Tiba-tiba mendadak kenes dan gemetaran.

Sesuatu yang hingga kini belum Saya sadari. Tak tau kenapa….Begitu mudahnya beliau cerita tentang intisari hidup. Bahkan sekalipun, untuk lawan bicara yang baru saja ia kenal.

Ketika masih duduk bangku Sekolah. Saya menyangka kalau pintu karir dan rejeki seseorang, akan mapan seiring prestasi akademis yang diraih. Namun, setelah memperoleh pekerjaan, Saya mengamati mata rantainya tidak sesederhana itu.

Tak sedikit dari rekan Saya yang akhirnya Jalan ditempat. Begitu tahu mayoritas dari teman-teman yang banyak menjadi pengangguran, meskipun nilai NEM yang didapat, diatas rata-rata.

Tak sedikit pula sahabat dengan berlatar belakang tidak tamat bangku sekolah dasar, akan tetapi dia sukses menjadi pengusaha. Dan sekarang, malah membuka lapangan kerja di daerahnya.
Secara spesifik, ternyata nasib, tidak sejalan dan semudah yang dipikirkan banyak orang.

Alhamdulillah, sekarang telah banyak yang Saya sadari. Garis nasib tidak serta-merta menonjolkan diri dari jenjang karir dan kualitatif nilai akademis di sektor pendidikan.
Toh pendidikan setinggi apapun, tidak menjadi sebuah tolak ukur bagi siapapun dalam mendapatkan nikmat, hidayah, maupun Rejeki.

Dalam hal ini, Alam yang merupakan satu diantara sekian banyak mahkluk ciptaan Tuhan, juga memiliki peran universal dalam proses menyeleksi terjadinya keseimbangan hidup. Bukankah rejeki juga senantiasa bersirkulasi. Saling melengkapi antara perilaku yang diperbuat antar sesama, atas imbal balik alam terhadap kita. Selaku penghuninya.

Dari beragam sudut pandang tentang Alif lam Mim yang saya peroleh, dari paparan juru kunci makam 7 Troloyo-Mojokerto, ulasan syari seorang ulama, keduanya telah membuka tataran yang lebih luas dan mendalam. Fasadnya memang, Alif Lam mim, tertulis dalam Kitab Suci agama Saya, dengan huruf hijaiyah, tanpa sedikitpun memiliki penjelasan.

Sejauh pemahaman yang tak seberapa ini, bayang-bayang pengetahuan tersebut sengaja tidak diungkap bagi banyak kalangan, agar tidak timbul kerancuan. Untuk bab-bab yang tidak diketahui paradoksnya, hanya sedikit orang ( berkategori berserah) dan memahami cabang ilmu hakikat diri, yang akan tahu artinya.

Itupun juga bukan secara tertulis sebagai simbol kecerdasan, melainkan secara relevan dan utuh, diwujudkan berupa tindakan dan tingkah laku. Segala macam praktik Ilmu alam, rupanya hanya diperuntukkan bagi mereka yang mengetahui tentang rahasia hidup. Terjemahan atau ulasannya hanya untuk pengetahuan, bukan untuk dipraktikan, karena dapat mencelakakan. 

Keadilan Tuhan dengan Hambanya yang Alim, Melalui Tatanan Alam

Kedekatan Tuhan dengan Orang Alim, melalui beragam cara ALAM menyampaikan ekspresinya yang santun. Dapat berupa cuaca, kelembababan udara, gemericik air, hembusan angin, dan cahaya mentari. Sehingga kalimat Alim dan Alam sudah berserikat dan utuh.

Sejak dari dulu, Alam bahkan menjadi inspirator estetika ketika Rasulullah SAW melakukan Nyepi di Gua Hiro. Begitu sendunya Alam menyelimuti beliau dengan keheningan, dan menyembunyikannya dari kejaran orang lafir yang hendak mencelakainya.

Bahkan di desa saya-pun, Ketersinambungannya Alim dan Alam. pernah diabadikan melalui peristiwa yang saya dengar secara getok tular. Hingga saat inipun, cerita mistis tersebut masih dipercaya sebagai motivasi spiritual bagi banyak orang. Tentang kisah salah seorang penduduk pribumi baik yang pernah mengalami mati suri.

Saat mati suri itulah, ruhnya dia terlepas. Ruhnya ini sendiri melihat jenazahnya dimandikan dan dikafani oleh warga. Karena tetangga dan warga sekitar menyangka orang baik tersebut sudah tiada.

Saat di berangkatkan ke pemakaman menggunakan keranda mayat, Roh orag baik ini itu juga menyaksikan sendiri jika alam tak berhenti bicara, menangis dan mendoakannya. Sayup-sayup terdengar dedaunan juga mengumandangkan sholawat nabi untuknya. Seakan-akan memberi penghormatan kepada Orang baik yang meninggal tersebut.

Dengan demikian, jelas sudah bahwa alam memiliki tatanannya sendiri dalam bertoleransi terhadap penghuninya seperti apa. Maka jangan salahkan alam akan enggan berbagi keadilan. Sepertiga-seperpempat, bahkan setengah hasil buminya nanti, bila manusia sudah tidak bisa lagi dipercaya dan tamak.

Maka, ketika alam sudah memberi sinyal merah, sebagai gejala penunjuk akan datangnya suatu perisitiwa maupun musibah, hanya syafaat Rasulullah SAW lah yang amat diharapkan. Demi melengkapi nikmat dunia yang belum disempurnakan.

Kita hidup di masa akhir jaman yang penuh kecurigaan. Dan saya pikir itu jeruji yang bisa membuat manusia tidak mampu melewati batasan “berserah”, lantaran enggan berbalas budi kepada sesama dan lingkungan. Kita cuma mau melakukan hal-hal menguntungkan demi kepentingan diri sendiri.

Menurut penuturan Sujiwo Tejo pula, dalam literatur budaya yang beliau kaji sendiri dengan bunyi: – Menghina Tuhan, tidak perlu cara-cara yang radikal dengan mengumpat dan membakar kitabNya. Merasa pesimis dam mengeluh jika besok tak bisa makan dan minum saja, itu sudah cukup melecehkan Tuhan.-

Tampaknya kita memang belum bisa. Seujung kuku yang berwarna hitam pun, menyentuh adil itu sulit untuk dicapai. Kita selalu menuntut hal terbaik dari alam, tanpa melakukan upaya sebaliknya dan menjaga kultur keadilan yang seharusnya. Sebagaimana yang diketahui bersama, Alam senantiasa memasok kebutuhan manusia. Mulai dari Sandang, Pangan, dan Papan.

Kembali ke Bapak penjua rempeyek tadi. Manusia tidak lantas mati jika tidak punya mata pencaharian. Alam bekerja sesuai tatarannya sendiri. Baik melengkapi dan terlengkapi. Tanpa berkelit dari keadaan sepelik apapun, keadilan alam sudah memiliki porsinya masing-masing.

Alam tak pernah mengkhianati hati yang mencintainya. Begitulah Kata William Woordswotth

Artikel Terkait :

Tinggalkan Balasan