Munajat Cinta Tak Harus Berbalas Rasa

Munajat Cinta Tak Jua Berbalas Rasa | Di penghujung Januari ini, kota Sidoarjo dilanda hujan yang cukup lebat. Tiap menjelang sore hari. Seolah-olah menjadi satu paket, seperti nasi dan Ayam Goreng KFC, hampir tiap memasuki tutup bulan, ada-ada saja dilema.

Sederhananya, kembar identik yang melanda psikologi seseorang ketika mengalami perasaan tersudutkan dan galau. Sehingga, saat butuh suatu pencerahan, mereka juga berharap banyak akan turunnya hujan.

Baca JugaHujan Dan Galau

Bukan dilema keluarga dengan tingkat kerumitan yang tinggi juga sih. Karena saya sendiri orangnya kurang “ngeh” untuk terlibat masalah intim dengan orang lain. Yang bukan menjadi prioritas saya.

Namun, problematika yang tidak sengaja menimpa orang terdekat, dan dia sendiri bingung menjalaninya, kerap menarik rasa simpati saya. Sehingga sulit untuk tidak menghindari keinginan demi sekedar membantu mereka.

Melalui sepenggal Pesan yang ia kirim lewat Whatsapp, ada seorang teman lama yang berkeluh kesah. Soal kesendirian, dan hasrat yang tersampaikan untuk segera memiliki pasangan. Topik pernikahan belum menjadi ulasan inti yang dia maksud. Tapi mengingat usia teman saya ini yang tak muda lagi, saya hanya memberikan kesimpulan. Dari apa yang telah jadi buah pengalaman saya terdahulu. Intinya : Kalau Ada niat baik, Segera tunaikan. Itu saja sih.

Kita anggap masalah teman Saya tersebut telah beres untuk hari ini. Berselang 3 hari, Topik percintaan muncul kembali. Namun kali ini bukan dari orang yang sama. Beda orang lagi. Tapi yang membuat saya agak canggung, lantaran sahabat saya ini adalah perempuan lajang. Dulu Adek kelas di sebuah sekolah farmasi.

Munajat Cinta Adalah Upaya Ibadah Juga…Tapi…

Teman saya yang ini, agak beda. Dulunya tomboi dan antipati soal lelaki. Baru beberapa tahun terakhir ini , entah kesambet demit dari golongan apa yang membuat tekatnya begitu terpacu. Nampaknya mbak ini mulai berpikir rasional untuk memiliki tambatan hati. Mungkin karena Usianya sudah tak sedap lagi. Dalam beberapa kesempatan, dia kerap menyinggung tampilan fisik. Yang dinilainya tidak menarik dan ‘mungkin’ bisa jadi hambatan untuk mendapatkan pria idaman.

Hmmfffph… Bagi saya yang menjadi pendengar setia, saya sengaja menjaga jarak. Karena lawan bicara saya kali ini adalah perempuan, takut terjadi personal affair apabila dia sampai salah asumsi. Karena sudah Haqnya perempuan akan senantiasa berharap rasa. Dan hafal betul polah tingkah perempuan lajang itu seperti apa, berjaga apabila sebuah saran tidak berkenan di hatinya. Sehingga saya tidak terlalu banyak memberikan banyak wedaran asmara dengan berolah vokal menjadi wanita.

Nah. Demi menjaga perasaan istri saya juga, dengan memberitahukan isi percakapan via WA tersebut setelah percakapan usai, Saya berusaha meyakinkan dia. Bahwa : Sudah takdir manusia untuk memiliki pasangan. Sehingga menambah wawasan dia juga sebenarnya. Jadi Dia tidak perlu khawatir tidak mendapat jatah. Toh jungkat-jungkit diatas sajadah kalau tidak ada upaya pedekete, sama juga bohong. Sama juga tidak melakukan upaya ikhtiar.

Sesulit apapun mencari jarum dalam sekam, kalau udah melaksanakan 2 syarat dengan istilah Syari: Tawakkal dan Ikhtiar, setelah itu YAKIN. Niscaya Jodoh tak akan lari kemana-mana. Munajat Cinta (hehe,,, ini sebenernya penghiburan untuk saya sendiri, karena seketika bicara loyalitas yang diberikan Tuhan. Dalam bentuk rijeki misalnya, saya masih sering lalai)

HIKMAH

Hikmah dari perisitwa diatas ialah: Bermunajat itu harus. Berusaha juga malah lebih harus. Selagi punya Tuhan.

Maka, akan lebih baik jika tidak menjadikan semua orang yang dikenal sebagai sarana yang tepat untuk memperoleh suatu jawaban. Walaupun baik, tapi juga harus diperhatikan. Bisa saja pertimbangan lain yang menjadi aspek krusial, agar pencerahan yang disampaikan itu tidak disalah artikan. Demi menghindari persepsi miring “Udang dibalik tahu”.

Mengeluhnya wanita kepada lelaki yang bukan muhrimnya, dengan harapan memperoleh bantuan. Apapun alasannya, itu bisa dikategorikan pencerahan yang berbahaya lho Gaes

Artikel Terkait :

2 Comments

Tinggalkan Balasan