menguras bak mandi

Menguras Bak Mandi itu…Pekerjaan Paling Ganteng

Menguras bak mandi, bukan lagi menjadi hal paling memberatkan bagi saya, bahkan hingga detik ini. Bukan karena sudah terbiasa disiplin sejak kecil, alasannya sepele, karena dirumah kami tidak difasilitasi oleh pembantu. Maka, mau gak mau, sepelik apapun pekerjaan yang sifatnya serabutan, harus ditangani sendiri. Demi mengakomidir pengeluaran uang…maunya, meski finansial kami bukan berasal dari golongan bertaraf moderat,

Baca Juga › Ketika uang berjenis kelamin

Namun, seiring berjalannya waktu, semakin terbiasa dengan kesibukan pekerjaan sendiri, Ndelalah, makin banyak pekerjaan rumah AKA laki-laki yang akhirnya diambil alih oleh sang istri. Terus terang, Jiwa kejantanan saya seringkali terusik, saking banyaknya item pekerjaan rumah yang rupanya banyak sekali untuk ditangani.

Dan satu-satunya orang yang paling lihai mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan rumahan tersebut, hanya sang istri seorang. Jenisnya tak pernah ketahuan, tapi rasa letih yang ditimbulkan, demikian tegas. Sehingga, ketika pekerjaan istri yang notabenenya hanya dirumah, terkadang menjadi kekecewaan jika upayanya mengurus rumah secara intens, tidak dihargai sedikitpun oleh suaminya.

Deskripsinya jelas. Tidak dianggap mengerjakan apapun, alias dipandang remeh. Lha wong hasilnya tidak kelihatan, dan suasana rumah, tetap itu itu saja. Apalagi jika saya terus-menerus mencibir jenaka dengan tujuan mencandainya…pasti sang istri langsung memasang muka sewot seketika…Sambil marah-marah tentunya, 😀 .

Tak banyak berubah..saya rasa nggak juga.

Namun setelah sekian lama mengamati, saya akhirnya sadar juga. Selama ini pekerjaan yang digeluti di dalam rumah, kesemuanya adalah jenis pekerjaan sunyi. Dilakukan rutin tiap hari, sambung menyambung tanpa henti. Saya sendiri tak sekali- dua kali mengerjakan tugas seperti ini. Hasilnya…Saya Kewalahan !!!. Bahkan pernah suatu kali Stuck di tengah jalan karena jumlah pekerjaan baru itu bisa dengan tiba-tiba bercabang tanpa diduga-duga. Banyak jumlahnya. Rampung menyelesaikan tugas ini, tugas lain siap menanti.

Semisal merapikan Rak Komponen. Belum selesai dengan Box mekanik yang berhamburan isinya , ternyata di sana juga tengah menanti mainan anak yang berserakan. Ada kertas, ada ini, ada itu, ada anu, yang semuanya butuh perlakukan yang sama, ingin ditata ulang.

Satu sudut ruang telah rapi tertata, sudut yang lain malah terlihat tak seirama. Tiba-tiba pandangan saya menjadi ilfill lantaran terlalu banyak pakaian kotor yang bergelantungan dimana-mana. Membedakan antara pakaian setengah kotor maupun bersih, lama-lama jadi bosan juga. Keduanya tetap harus dipisahkan demi menentukan pakaian mana yang layak cuci dan layak pakai. Tetapi ya itu tadi…tak cukup ruang, dan nyaris berantakan.

Namanya Berantakan itu tetap menjadi siklus hidup yang senantiasa berulang dari waktu ke waktu. Hanya beda tempatnya saja.

1 terselesaikan, yang satu menimbulkan persoalan lanjutan karena setiap hal, baru akan terasa dampaknya lantaran tindakan indispliner yang tidak disudahi. Sikap sadar diri yang enggan disegani sehingga terlanjur menjadi kebiasaan, yang kemudian membuat mental terdidik menjadi pemalas.

Ada yang gemar menaruh benda benda yang seharusnya prioritas secara serampangan, ada BH yang kemarin begitu sulit dicari, yang ternyata cuma menggeletak di di sudut lemari. Ada handuk yang digantung begitu saja, padahal jelas-jelas bukan berada di tempat yang seharusnya.

Intinya, terlepas ke arah manapun mata ini memandang, saya cuma melihat fenomena “tak layak huni” di sekujur ruang. Inilah derita yang muncul bersamaan di setiap kali kesempatan mengerjakan pekerjaan rumah di waktu yang sama. Dan rupa-rupanya, itulah derita yang pasti mendera istri, termasuk ketika harus menguras bak mandi.

Sudah terhitung banyaknya pelanggaran terjadi. Yang justru membuat saya kesal tidak cuma kepada 1 maupun 2 orang saja, atau anak-anak juga, melainkan juga melibatkan diri sendiri, karena di antara para pelanggar itu, ternyata masih menciduk nama saya sebagai tokoh utama cerita ini, selaku orang tua.

Baca Juga › #Orang Tua dan Kisahnya Yang Tercoreng

menguras bak mandi

Nah, kembali ke Bak Mandi. Dengan begitu angkuhnya mandi tanpa peduli menguras bak mandi, itu tandanya istri telah menderita kesengsaraan ini dengan cukup lama. Karenanya, tak sekali saya melihat ia begitu kecapekan, ia mengaku lelah untuk sebuah pekerjaan bernama entah. Pekerjaan yang ia sebut sebagai melelahkan tetapi tidak kelihatan.

Maka ketika suatu kali ia tampak pucat kelelahan padahal saya tahu ia masih harus menguras bak mandi, entah ilham kebaikan apa yang masuk di kepala, saya memutuskan mendahuluinya tanpa pamit. Saya bersihkan kamar mandi itu habis-habisan, saya kucurkan krannya, seketika air jernih berlimpahan mengisi penuh bak penampungannya.

Bukan sekedar kegiatan menguras bak yang membuat saya makin bangga dicap Ganteng, lantas disegani oleh istri. Ini merupakan persiapan bagi saya dalam menyajikan persembahan perkawinan, selama 9 tahun mengabdi sebagai Jongos, sekaligus Ayah.

Akan saya buktikan bahwa hadiah perkawinan adalah sesuatu yang amat murah. Dan jika mau, setiap hari bisa saya berikan.

︾ BAGIKAN JIKA INI BERMANFAAT ︾

ARTIKEL YANG SERUPA :

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!